Laman

Sabtu, 20 November 2021

TB Kelenjar merenggut nyawa putriku di musim pandemi COVID-19

Wajahnya yang cantik di usia 11 tahun.

Kamis, 02 September 2021 jam 0354 pagi, putriku yang berusia 11 tahun menghembuskan nafas terakhirnya di Ruang PICU RSxxxx kota Malang.

Hati terasa hancur, mata meneteskan air mata, tenggorokan terasa sakit, dada seperti sesak. Ketika mengenang kepergiannya.

Akan tetapi kami tidak mengucapkan hal-hal buruk yang mencerca takdir Allah SWT.

Saya seorang pelaut yang jarang berjumpa dengan putriku, bahkan pada saat lahiranya pun saya tidak bisa menemani istri akibat tugas berlayar. Teringat ketika masih bayi sewaktu pulang berlayar dari Malaysia, awal-awal sampai rumah putriku dengan malu-malu mengintipku sambil memeluk mamanya. Mungkin dia heran melihatku tiba-tiba ada disampingnya.

Saat itu dia tidak begitu dekat denganku, dia justru lebih dekat dengan kakeknya yaitu mertuaku. Seiring waktu aku berhasil dekat dengan putriku, bahkan Ketika pergi berlayar ada beberapa bajuku yang tidak dicuci untuk dibuat selimutnya, ketika dia mulai rindu memanggil-manggil namaku. Biasanya saat dia tiba-tiba mulai bertanya-tanya “kapan abi pulang cuti, ini kan sudah 3 bulan dan waktunya cuti, kenapa masih belum pulang?”, dia selalu hafal dan menghitung lamanya kontrak kerjaku. Jika sudah begini, mamanya menyelimutkan bajuku yang belum dicuci tersebut ditubuhnya saat tidur. Dan anehnya dia pun bisa tidur dengan lelap.

Oktober 2020 aku berangkat berlayar ke Saudi Arabia yaitu ketika gelombang pandemi Covid-19 menjadi momok mengerikan bagi dunia, kontrak kerja yang biasanya hanya 3 bulan pun molor dikarenakan susahnya mendapat pengganti akibat pandemi yang tidak kunjung berakhir sehingga bepergian ke Negara-negara lain menjadi sulit dilakukan dan berimbas kepada pelaut susah untuk pulang ke Negara asal.

Akhir bulan Maret 2021, saya mendapat kabar putriku mulai sakit batuk dengan intensitas ringan dan malam harinya demam ringan 37.5 - 38 derajat. Kami pikir itu sakit flu biasa, setelah mamanya membawa dia berobat ke dokter umum sakitnya pun sembuh.

Bulan Mei 2021 gejala sakitnya terulang kembali, lagi-lagi kusuruh mamanya untuk bawa berobat ke dokter umum dan dia pun sembuh. Saat itu dia masih ceria, nafsu makan sangat baik, namun dia mulai kurang bergairah dan banyak tiduran.

Awal bulan Juni 2021 saya pulang berlayar dari Saudi Arabia. Sakit putriku kambuh lagi yaitu batuk dengan disertai demam ringan yang timbul tenggelam, malam berkeringat, dan ada benjolan kecil mulai tumbuh di leher kiri bawah telinga.

Saya pun segera membawanya ke dokter spesialis anak, oleh dokter diberi antibiotik dan paracetamol. Dua minggu berlalu sakitnya tidak kunjung sembuh, kami pun kembali kontrol berobat. Karena sedang pandemi maka dia di swab RT PCR untuk memastikan bukan COVID dan hasilnya negative.

Mulailah dilakukan screening TB, Rongsent Thorax, test darah lengkap, test sputum BTA dahak, dan darah IGRA.

Satu-satunya test yang menyatakan positif TB hanya test darah IGRA, sedangkan rongsen thorax hasilnya ada kesan pneumonia ringan namun tidak spesifik TB, 3x test sputum BTA dahak MTB Xpert/Rif Assay pun hasilnya negatif.

Mamanya pun shock dan menangis karena hasil diagnosa dokter menyatakan TB Kelenjar. Saat itu kami betul-betul buta dengan penyakit TBC, hanya pernah dengar dan membaca sekilas semasa sekolah tentang penyakit mengerikan ini. Saya pun mencari informasi seputar TB dari google, konsultasi dengan dokter paru dan dokter anak pada aplikasi ALODOKTER, dan mendownload pedoman tata laksana TB anak. Dari sini saya pun optimis putriku dapat disembuhkan karena TB sudah ada obatnya dan yang terpenting adalah patuh/disiplin minum obat.

Saya tahu ini bukan penyakit sembarangan, maka saya pun memulai pengobatanya dengan berpuasa 9 hari penuh dan mulai merukyahnya setiap hari dengan membacakan Al-Fatihah, Ayat Kursi, Al-Ihlas, Al-Falaq, dan An-Naas sebanyak 7x setiap pagi dan petang.

Kami tinggal disebuah perumahan yang sangat jarang berinteraksi dengan tetangga-tetangga. Selama pandemi putri kami belajar daring di rumah. Agar tidak tertinggal pelajaran dan mengisi waktu, kami mendatangkan guru les Tematik, matematika, Bahasa inggris, dan Mengaji Al-Quran.

Sehingga kami merasa heran bagaiman mungkin dia bisa tertular TBC.

Seluruh guru-guru les pun kami berhentikan karena curiga mereka yang menulari putri kami, sedangkan dikeluarga tidak ada sejarah TB dan semua dalam keadaan sehat, dan bahkan selama pandemic covid kami tidak berinteraksi dengan tetangga-tetangga karena takut corona.

Pada awal pengobatan oleh dokter anak (belakangan ternyata salah resep) dia diberi OAT KDT Anak (Rifampizin, Pyrazinamide, Isoniazid - RHZ) yang diminum pagi hari 2 jam sebelum makan sebanyak 3 tablet 1x sehari.

Setelah minum OAT ini, anehnya batuk putri kami semakin parah menjadi-jadi, malamnya tidak bisa tidur, dan malah keluar dahak, padahal awalnya tidak berdahak. Mungkin penyakitnya bereaksi pikirku saat itu.

2 minggu berlalu obat tersebut pun habis, kami kontrol ulang untuk melanjutkan pengobatan. Dokter meminta maaf akibat salah resep obat, pada saat pengobatan usia putri kami 11 tahun dengan BB 47 kg. Berdasarkan pedoman tatalaksana TB anak, seharusnya putri kami meminum 3x1 hari tablet OAT KDT Dewasa. Obat diberikan berdasarkan berat badan, bukan melihat usia. Sehingga dokter menggantinya dengan OAT KDT Dewasa.

Disini saya menjadi ragu untuk meminumkan obat tersebut, sebagai orang tua yang merawatnya dari kecil kami sangat paham dengan kondisi anak dan merasa bahwa anak kami tidak akan mampu mengkonsumsi OAT dewasa.

Kami pun mencari alternatif lain dengan berkeliling mencari dokter anak konsultan respirology (dokter paru anak) supaya obat diganti dengan pecahan dan diracikan sesuai dengan kondisi tubuhnya. Namun dokter respirasi anak ini juga justru meresepkan obat yang sama yaitu OAT KDT Dewasa. Melihat kekhawatiran kami, dokter pun memberi pengantar check darah guna memantau fungsi liver dan ginjal sebelum memulai pengobatannya dengan OAT dewasa.

Tidak ada pilihan, putri kami pun minum OAT Dewasa. Obat merah ini sangat besar-besar sehingga putri kami muntah dan tidak bisa menelan obat. Obat saya hancurkan di sendok yang dicampur air, saya bacakan Al-Fatihah & Ayat kursi setiap minum obat tersebut guna memohon kesembuhan.

Perkiraan saya tepat, hanya 5 hari konsumsi OAT dewasa. Putri kami muntah-muntah, badanya lemas dan kepala pusing. Setelah check darah ternyata obat membuat livernya terganggu (Hepatitis Imbas Obat atau Drug Induce Liver Injury).

SGOT/SGPT naik 5x lipat dari batas normal, dan Billirubin naik 2x lipat. Dokter pun menghentikan pengobatan selama 2 minggu guna menormalkan fungsi livernya. Pada saat ini dokter anak yang menangani menyerah dan meminta kami beralih ke dokter respirasi anak.

Ketika stop obat, putri kami yang semangat untuk sembuh bertanya-tanya keheranan “mama kenapa hari ini tidak minum obat?”

Mamanya menjawab “iya nak, dokternya suruh stop dulu minum obatnya”.

Dengan polosnya dia menimpali “gimana sih ini dokternya, katanya kemarin berobat 6 bulan, kok ini baru beberapa minggu udah stop, dokternya plin-plan ma”.

Dia tidak paham jika livernya terganggu akibat obat sehingga muntah-muntah dan lemas. Dia mengira kondisi badanya yang lemah dan muntah-muntah itu karena penyakitnya.

Saat itu saya mulai panik, cemas dan rasa ketakutan melanda pikiran. Dengan membawa mobil, saya berangkat sendirian ke rumah Ibuku agar istri dan putriku tidak mengetahui kecemasan di wajahku. Sebagai seorang lelaki dan kepala keluarga, maka aku harus bisa menyembunyikan kegundahan dalam hati agar semua tetap optimis dan tidak stress. Selama perjalanan perasaanku bercampur-aduk dengan air mata mengalir dari kedua mata dan hanya Allah yang tahu isi hatiku kala itu. Di depan ibuku dan saudara-saudara, aku tidak kuasa menahan ledakan tangisan, tangisanku pecah dengan sesenggukan. Seluruh kakak-kakak ku pun ikut panik melihatku menangis tersedu-sedu, padahal selama ini aku terlihat tegar dan tenang dalam segala kondisi. Seorang pelaut yang sudah menghadapi ganasnya lautan, berkeliling dunia, dan berkumpul dengan berbagai macam orang dari berbagai negara, kini nampak lemah menangis tersedu-sedu.

Sore harinya keluarga besarku panik dan berhamburan bertandang kerumah untuk memberi dukungan moral. Kakakku pun mencoba mencari pengobatan alternatif dengan doa-doa dari para ulama kyai di pesantren, kami sekeluarga semakin giat beribadah memohon ampunan dan kesembuhan putri kami.

Aku bahkan bernadzar “PUASA SELAMA 1 BULAN NONSTOP TANPA JEDA SEHARIPUN SEBAGAIMANA PUASA RAMADHAN”, jika putriku berhasil sembuh nanti.

Ketika putriku berhenti pengobatan, saya berkeliling ke dokter paru dewasa di klinik respirasi untuk konsultasi. Penjelasan dokter paru membuatku tenang dan kembali optimis akan kesembuhan putriku. Belakangan saya menyesal kenapa tidak menyerahkan penanganan pengobatan putriku kepada dokter paru tersebut.

Untuk menunjang pengobatan non medis, bahkan saya membeli beberapa gallon air zam-zam yang saya rukyah sendiri setiap pagi dan petang untuk diminumkanya.

Dari hasil konsultasi dengan banyak dokter, kebanyakan dokter menyarankan putri kami ditangani oleh dokter respirasi anak dan bukan dokter paru dewasa mengingat usianya masih 11 tahun.

Sehingga ketika fungsi liver putri kami sudah normal, kami memutuskan untuk kembali berobat ke dokter respirasi anak. Namun Qadarullah dokter tersebut ISOMAN akibat COVID dan tidak bisa menangani pengobatan untuk sementara.

Kami pun berkeliling mencari dokter respirology anak lainya yaitu seorang dokter senior bergelar profesor, lagi-lagi Qadarullah tanpa diduga selang beberapa hari setelah kunjungan kami, dokter professor paru anak ini pun meninggal akibat terkena Covid.

Kala itu saya berencana untuk membawa putriku kontrak rumah dan berobat di RSU Persahabatan Jakarta agar mendapat penanganan yang tepat. Rumah sakit ini merupakan gudangnya pakar-pakar dokter spesialis paru. PPKM akibat Covid-19 membuat rencana ini gagal.

Jalan pun terasa buntu, ditengah pandemi setiap hari ada siaran kematian 2 sampai 3 kali per harinya. Semua ini membuat kami semakin down ketakutan, sementara batuk dan intensitas demam putri kami semakin menjadi. Pada saat demam datang tubuhnya juga gemetaran dan jantungnya berdetak cepat sampai 150. Kami semakin panik dan setiap hari berkeliling mencari dokter yang tepat, dari dokter anak spesialis imunolog hingga neurology kami kunjungi. Terakhir ditengah keputus asaan, dokter respirasi anak yang tengah ISOMAN COVID membalas whatsapp saya dan meminta kami kembali ke dokter anak yang pertama kali menangani, kedua dokter tersebut saling kenal dan praktek di rumah sakit yang sama. Dokter respirology anak tersebut memandu dokter anak kami untuk melanjutkan pengobatan putri kami.

Putri kami pun memulai pengobatan dengan rechalange OAT, obat dimasukan satu persatu dengan dosis naik secara perlahan. Pada fase ini ujian kesabaran yang berat mulai semakin terasa, setiap beberapa hari putri kami harus ditusuk-tusuk jarum guna mengambil sampel darah padahal dia sangat takut dengan jarum suntik. Walaupun dia selalu menangis trauma dengan jarum suntik, dengan berbagai cara kami berhasil membujuknya agar berani.

Menurut penilaian saya dokter tersebut kurang pandai dalam rechallange OAT. Rifampizin diminum dengan dosis naik secara bertahap mulai 200 mg, naik 400 mg, dan pada saat dosisnya mencapai 600 mg. trombosit putri kami anjlok 96000 (trombositopenia) dan Billirubin naik 1.74.

Saya mendesak dokter tersebut agar menurunkan dosisnya dan dokter setuju dengan catatan obat ditambah Etambuthol. Dokter kemudian mengubah dosis Rifampizin menjadi 200 mg, namun anehnya ketika evaluasi Rifampizin belum selesai, dokter sudah mulai memasukan Isoniazid secara bertahap.

Ketika dosis obatnya menjadi Rifampizin 200 mg + INH 300 mg, trombosit putri semakin anjlok 56000, SGPT 400, SGOT 200, dan Billirubin 3,2. Malamnya putri kami kuning, muntah-muntah, dan kondisinya semakin lemah.

Rechallange OAT dihentikan lagi dan paginya kami larikan ke UGD untuk perawatan fungsi livernya. Di rumah sakit putri kami di infus dan setelah 3 hari opname, kami diijinkan pulang. Dokter anak yang menangani sudah angkat tangan, kami di rujuk untuk meneruskan pengobatan dengan menunggu dokter respirasi anak selesai ISOMAN.

Opname di RS akibat Drug Induce Liver Injury "DILI"

Sepulang dari rumah sakit, saya melihat badan putriku menjadi bengkak. Ternyata cairan infus terperangkap dalam tubuhnya atau disebut EDEMA ANASARKA. Pada saat masuk UGD RS berat badanya 47 kg, namun saat keluar dari RS berat badanya naik drastis menjadi 51 kg, artinya ada 4 liter cairan infus terperangkap dalam tubuhnya.

Ya Allah Ya Rabb, TB Kelenjar belum terobati kemudian livernya terganggu akibat keracunan OAT dan kini ditambah lagi dengan EDEMA ANASARKA yang membuat putriku susah berjalan akibat nyeri bengkak di tubuh dan kakinya. Sungguh menyedihkan nasib putriku yang tidak berdosa ini..!!!

Saat itu langit yang cerah terasa bagaikan mendung gelap gulita bagi keluarga kami, rumah tidak ada cahaya kebahagiaan, hidup terasa sendiri menanggung duka, dan tangisan menghiba mengaduh memohon kesembuhan kepada Allah menghiasi seisi rumah. “Ya Allah Ya Rabb, kami tidak kuat dengan cobaan ini. Bukankah engkau tidak akan memberikan cobaan melebihi batas kemampuan hamba-MU, maka sembuhkanlah putriku wahai Rabbku”, jeritku dalam doa.

Doa-doa dari hadist shohih berikut ini kami panjatkan tanpa henti:

Ya Allah Tuhan segala manusia, jauhkanlah penyakit itu dan sembuhkanlah ia, Engkaulah dzat yang bisa menyembuhkan, tidak ada obat melainkan obat dari-MU, obat yang tidak meninggalkan penyakit sedikit pun. Hilangkanlah penyakit itu, wahai Tuhan pengurus manusia. Hanya pada-MU obat itu. Tidak ada yang dapat menghilangkan penyakit selain ENGKAU, aku mohon kepada-MU wahai Allah yang Maha Agung. Tuhan Arasy yang agung, semoga dia menyembuhkan sakitmu (HR. Bukhari dan Muslim)

Kemudian kami sambung doa berikut:

Bismillah…Bismillah...Bismillah..

A’udzu billahi wa qudratihi min syarri ma ajidu wa ukhadiru (7 kali)

Artinya: “Aku berlindung kapada Allah dan kuasa-NYA dari keburukan apa yang kurasakan dan kukhawatirkan”.

Kemudian kami bacakan pada air zam-zam untuk diminumnya surat Al-fatihah, ayat kursi, Al-Ihlas, Al-Falaq, dan An-Naas sebanyak 7x pada pagi dan petang setiap hari.

Namun Allah belum berkenan menjawab doa-doa kami dan belum memberikan jalan kesembuhan bagi putriku.

Saat kondisinya semakin lemah, putri kami semakin menjadi sosok yang lemah lembut dan manis. Wajahnya semakin bersih bersinar.

Suatu ketika dia demam dengan gemetar berkata kepadaku “Abiii apa aku boleh shalatnya di Jamak dan wudhu tayamum, soalnya dingin banget”.

Saat itu, aku yang putus asa dengan doa-doa belum terjawab dari Allah, menjawab pertanyaanya dengan asal-asalan. “Kamu masih anak-anak, tidak shalat pun tidak apa, kalau mau jamak ya di jamak saja, toh doanya abi belum terkabul juga”.

Dia pun tetap menunaikan shalat dengan di Jamak walaupun dengan kondisi yang lemah dan shalat sambil tidur. Bahkan tugas-tugas sekolah dan kegiatan meet online tetap dikerjakanya. Belakangan saya menyesal dan memohon ampun kepada Allah atas jawaban asal-asalan tersebut. 

Dalam kondisi makin lemah, memaksakan diri mengerjakan tugas rekaman B. Inggris

Ketika haus ingin minum, badanya yang semakin lemah membuat dia meminta tolong mamanya untuk diambilkan minuman, setiap diambilkan minuman dia berkata “makasih ya mama, makasih ya abii”.

Suatu sore menjelang maghrib, kudengar suara murattal Al-Quran yang mendayu-dayu dari Masjid seakan-akan menambah rasa sedih. Tiba-tiba putriku berkata “Abii, aku sakit ini merepotkan orang tua yaa, berobatnya habis banyak ya abi”.

Hati terasa teriris mendengar pertanyaan putriku yang masih sekecil itu bisa berpikir sejauh ini.

“Sudahlah, kakak jangan berfikir jauh seperti itu, pokoknya sekarang yakin dan berdoa untuk sembuh. Udah itu saja”, jawabku.

Ketika dokter respirasi anak sudah selesai ISOMAN, saya segera membawanya berobat kedokter tersebut dengan membawa semua hasil laboratorium beserta keluhan bengkak di badanya akibat penumpukan cairan infus.

Lagi-lagi putriku harus ditusuk jarum untuk test darah, rontgen thorax, dan check urine.

Oleh dokter kemudian diberi obat Furosemid atau diuretik agar kencing-kencing untuk mengeluarkan cairan tubuh. 5 hari setelah konsumsi obat diuretik, kami check darah dan urine lagi. Hasilnya obat ini membuat ginjalnya terganggu, dalam urine mengandung protein +1.

Astaghfirullah Hal Adzim, cobaan apa lagi ini Ya Rabb ku.

Pada test laboratorium yang ini, dari konsultasi dengan dokter spesialis paru dan spesialis penyakit dalam di applikasi ALODOKTER. Dokter menyatakan mulai ada cairan efusi pleura di paru-paru putriku. Namun anehnya dokter respirasi anak tersebut tidak mengetahui hal ini.

Dokter respirasi anak segera merujuk putriku ke rumah sakit tempat prakteknya untuk penanganan lebih lanjut.

Dikarenakan badanya bengkak oleh cairan infus EDEMA ANASARKA, gangguan liver, dan trombosit tidak kunjung membaik. Dokter mencurigai dia dengan bermacam-macam penyakit seperti: Leukimia, autoimun, keganasan/kanker, jantung, dan sebagainya. Dokter spesialis hematologi pun dilibatkan untuk memeriksa ada tidaknya kelainan darah, hasilnya semua normal, tidak ada autoimun, dan leukimia. Selanjutnya dokter spesialis jantung turun tangan untuk USG jantung, ternyata disekitar jantung kanan terjadi efusi pericard sebanyak 0.67 liter dan diagnose gagal jantung 1 sebelah kanan yang diduga akibat hipertensi paru (infeksi paru).

Banyaknya cairan ditubuhnya ini juga bocor ke paru-paru. Saya mulai terlibat konflik dengan dokter respirasi anak yang menangani, sebab dokter tersebut setiap 4 hari melakukan rongsent thorak terhadap putri kami. Sedangkan dari konsultasi online ada 2 dokter yang menyatakan paru-parunya mulai terisi cairan dan mereka menyarakan untuk USG Thorax, sementara dokternya kukuh untuk rongsent-rongsent tanpa ada penjelasan kenapa dan tidak bersedia melakukan USG Thorax.

Dengan emosi dokter respirasi anak tersebut menanyakan saya lulusan mana sehingga harus mengintervensi keputusan dokter. Dokter tersebut terlihat arogan dan merasa sangat pandai sehingga saya tidak menceritakan soal konsultasi online agar dia tidak semakin tersinggung.

Karena kondisi putriku yang semakin lemah, sehingga saya tidak ada pilihan selain akur dengan dokter tersebut. Kondisi pandemic yang mengerikan dan susah melakukan pengobatan membuatku susah untuk bergerak mencari alternatif dokter atau rumah sakit lain.

Di Rumah sakit sebenarnya penanganan putri kami dilakukan dengan sangat istimewa dan cepat. Pada hasil rongsent yang terakhir baru dokter paru anaknya bisa menyimpulkan terjadi efusi pleura pada paru-parunya. Saat hasil diagnosa ditemukan tengah malam, saking cepatnya penanganan. Dokter pun datang tengah malam dan menyalakan komputer-komputer USG yang telah mati.

Dari hasil USG Thorax, ditemukan cairan 1500 ml pada masing-masing kedua paru-parunya. Saat itu kami disarankan untuk memindahkan putri kami ke ruang PICU guna dilakukan perawatan intensif dengan bantuan ventilator. Saya menolak untuk keruang PICU mengingat putri kami yang mudah histeris dan stress dengan pemasangan selang ventilator di mulutnya, saya khawatir kondisinya akan semakin buruk akibat stress dengan pemasangan ventilator. Saya mempertanyakan kenapa tidak dilakukan sedot efusi pleura saja agar nafasnya lega, namun dokter bedah menyatakan cairan masih minimal. Dokter kemudian memutuskan agar obat diuretic furosemide dimasukan melalui suntikan supaya maksimal dalam mengeluarkan cairan melalui urine.

Sejak penolakan ke ruang PICU, saya dan istri berjaga 24 jam tanpa tidur secara bergantian dengan memasang oximeter di jari putri kami guna memantau saturasi oksigenya.

3 hari setelah penolakan ke ruang PICU yaitu hari Minggu, 29 Agustus 2021. Entah kenapa tiba-tiba aku membawa ibuku ke rumah sakit untuk mengunjungi putriku. Kemudian siangnya orang tua dari istriku (kakek neneknya juga berhasil masuk untuk berkunjung, padahal situasi pandemic sangat susah untuk bisa akses masuk ruang opname pasien).

Sekitar jam 2 siang, setelah kunjungan kakek dan neneknya. Saturasi oksigen putriku terus menurun drastis hingga 35 %. Keringat dingin bercucuran diseluruh tubuhnya, dia pun berteriak “Mama, panggil dokter ma, panggil dokter, panggil dokter maaa!!”. Kami panik dan segera memanggil dokter dari ruang PICU. Para dokter mendudukanya dengan prone position memeluk bantal, masker oksigen kami plester disekitar mulut dan hidungnya agar tidak bocor, dan kami tepuk-tepuk punggungnya guna menaikan saturasi oksigen. Cara ini berhasil dan saturasi oksigen naik stabil pada angka 95 %. Qadarullah ruang PICU anak yang awalnya penuh tiba-tiba terjadi kegawatan dan pasien meninggal. Dari jam 2 siang hingga jam 8 malam (5 jam) putri kami duduk dengan prone position memeluk bantal sambil mulut di plester masker oksigen untuk menunggu pembersihan ruang PICU sepeninggal pasien sebelumnya. Subhanallah, sungguh semangat hidup yang luar biasa telah dia tunjukan.

Jam 8 malam dia pun masuk ruang PICU, tubuhnya di penuhi kabel-kabel perekam jantung, digital oximeter, selang infus, dan selang ventilator. Di ruang PICU putriku berontak minta pulang bersamaku akibat tidak nyaman dengan banyaknya peralatan ditubuhnya, keadaan ini membuat saturasi oksigen kembali drop. Dokter pun menyuntikan obat sedasi/anestasi (bius) agar dia tertidur. Ditengah antara sadar dan tidak sadar akibat obat bius, saturasi oksigen terus menurun. Kami pun diminta meninggalkan ruangan karena dokter memutuskan untuk memasukan selang ventilator lewat mulutnya kedalam paru-paru dengan kaki dan tangan terikat (sebab dia masih setengah sadar). Bagi saya ini seperti penyiksaan yang sangat berat dan jangan ditanya seperti apa perasaan kami kala itu.

Setelah selang ventilator berhasil terpasang, maka dilakukanlah rongsent thorax ulang. Hasilnya sungguh seperti petir ditengah malam buta, seluruh paru-paru putri kami telah dipenuhi dengan cairan..!!!!.

Artinya hanya dalam waktu 3 hari dari USG Thorax, seluruh paru-paru putri kami tiba-tiba penuh dengan cairan. Dokter pun kebingungan dengan penyebab keadaan ini, namun dari analisa dokter jantung yang kami hubungi secara online. Cairan infus yang menyebabkan badanya bengkak telah bocor ke paru-paru akibat jantung kanan sudah kelelahan (gagal jantung 1) sehingga tidak bisa memompa cairan tubuh secara maksimal.

Dokter memutuskan untuk melubangi punggungnya guna evakuasi cairan efusi pleura melalui selang WSD. Kami hanya bisa mengiyakan seluruh upaya tindakan dokter.

Ternyata putriku hanya menunggu kakek neneknya datang sebelum kondisi kritis dan tidak sadarkan diri yang menimpanya, buktinya dia masuk ruang PICU setelah kunjungan kakek neneknya.

Kuselimuti kepalanya dengan jaketku ketika di ruang PICU akibat AC yang terlampau dingin.

Tengah malam sesaat setelah putri kami masuk ruang PICU, kami mendengar sayup-sayup suara. “Laillahaillallah….Laillahaillallah….Laillahaillallah….Laillahaillallah……”. Badan kami serasa gemetar menggigil shock mendengar suara itu, suara itu seolah-olah suara iringan para pengantar jenazah. “Kenapa ada suara ini ketika putriku masuk ruang PICU?, apakah ini hanya halusinasiku saja?” gumamku dalam hati.

Dengan perasaan campur aduk aku mencari-cari dari mana sumber suara tersebut, ternyata suara tersebut berasal dari dzikir pasien korban kecelakaan di ruang UGD yang menjerit kesakitan. Perasaan kami pun kembali tenang.

Sekitar jam 3 pagi, nampak sepasang suami istri keluar dari ruang PICU. Orang tersebut terlihat menenteng tagihan pembayaran dengan wajah basah oleh air wudhu dan air mata. Dengan ramah orang tersebut menyapa kami “Bapak/Ibu silahkan menggantikan tempat kami, hari ini kami keluar dari ruang PICU dan pulang”.

Saya berbisik kepada istriku “Alhamdulillah, senangnya orang itu karena anaknya sudah sembuh dan bisa pulang”.

Namun pemandangan yang terjadi berikutnya membuat kami shock, selepas dari loket pembayaran dia masuk lagi keruang PICU untuk mengambil anaknya. Ternyata dia keluar dari ruang PICU dengan mendorong keranda mayat.

“Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun, pantas saja wajahnya tadi nampak basah dengan air wudhu dan air mata. Ternyata dia pulang membawa jenazah anaknya dan bukanya sembuh”, bisiku kepada istriku.

Hari itu kami tidak dapat memejamkan mata sedikit pun, mata kami basah dengan air mata dan mulut tanpa henti ber-Istighfar kepada Allah. Di tengah keheningan malam, pikiranku terbang mengingat proses pengobatan putriku yang kian hari justru kian memburuk. Kubisikkan kepada istriku “kita harus ihlas dengan keadaan Izyan. Jika memang Izyan nanti akan di panggil menghadap Allah maka kita harus berusaha untuk kuat, sabar, dan ihlas”.

Istriku pun menangis mengaduh sambil berkata “Lhoh abiii, ini kita kerumah sakit untuk mencari obat dan kesembuhan, kenapa malah kondisinya makin buruk dan harus meng-ihlaskan”.

Kuceritakanlah kronologi pengobatanya yang selalu salah jalan dan kondisinya justru makin memburuk, seolah-olah ini adalah pertanda bahwa Allah akan segera memanggilnya.

Ledakan tangis istri semakin tidak tertahan, kulihat dia sesenggukan sambil menepuk-nepuk dadanya. Dadanya terlihat sakit menahan kesedihan.

Siang hari kami meeting dengan kepala tim dokter gawat darurat guna membahas progress penanganan dan keadaan putri kami. Ternyata setelah punggung dilubangi dan cairan dikeluarkan dari paru-parunya, terjadi penambahan cairan sebanyak 170 ml/hari yang belum diketahui bocor darimana. Dokter kemudian memasang pompa otomatis yang mampu mengisap cairan ketika terjadi penambahan.

Dokter meminta persetujuan kami untuk melakukan biopsi kelenjar di lehernya untuk memastikan ada tidaknya keganasan pada kelenjar getah bening. Permintaan ini saya tolak.

“Jika dokter bisa menjamin kesembuhan putri kami, maka mari kita lakukan tindakan biopsy. Namun jika dokter tidak yakin, saya tidak mau menyakiti dan menambah penderitaan putri kami lagi. Punggung sudah lubang, mulut di pasang selang ventilator, pembuluh darah ditusuk untuk memasukan obat, dan kini leher pun mau dioperasi untuk biopsi. Dokter harus menstabilkan kondisinya dulu, baru kemudian kita melangkah ke tahap lebih lanjut seperti biopsy”, kataku kepada dokternya.

Dokter memahami perasaan kami, saya pun menanda tangani surat penolakan.

Sejak putriku masuk di ruang PICU, setiap hari di rumah ibuku selalu mengaji Al-Quran Bersama-sama dengan dibantu oleh kakak-kakakku, budhe dan paman-pamanku. Derai air mata seluruh keluarga besar tertumpah untuk putriku tatkala memanjatkan doa.

Kakak-kakaku pun kembali berkeliling ke pesantren untuk memohon doa ulama kyai guna kesembuhan putriku.

Setiap hari kami disuguhi pemandangan memilukan melihat jerit tangis orang tua mendorong keranda mayat anaknya keluar dari ruang PICU. Irama-irama mesin dari ruang PICU seakan-akan suara musik pemanggil kematian. Kami diperlihatkan keadaan yang lebih tragis daripada yang kami alami. Ada yang meninggal karena leukimia, jantung, dan sebagainya. Kami seolah merasa hanya menunggu giliran. 

Ketika kondisi putri kami semakin kritis, dokter seakan mengisyaratkan bahwa kondisinya sudah sulit untuk diselamatkan. Menurut dokter tersebut dalam kondisi seperti ini ada 3 hal yang biasanya mungkin terjadi, yaitu antara lain:

  1. Pasien dibawa pulang oleh keluarga dengan catatan seluruh peralatan dimatikan sendiri oleh keluarga, artinya orang tua tersebut yang membunuh anaknya.
  2. Pasien diberi obat sedasi/bius dan penghilang rasa nyeri hingga meninggal tanpa tindakan apapun.
  3. Pasien diberi obat sedasi/bius, penghilang rasa nyeri, dan dilakukan tindakan pengobatan. Dengan resiko setiap tindakan pengobatan bisa saja dapat memperparah kondisi kritisnya.

Melihat semangat hidup putri kami yang sangat tinggi, maka saya bertekad untuk dilakukan tindakan pengobatan. Tujuan kerumah sakit adalah berobat dan kami tidak akan menyerah hingga tetes darah terakhir.

Disamping evakuasi efusi pleura melalui selang WSD, putri kami juga tetap diberi obat diuretik furosemide, obat jantung, antibiotic. Karena banyaknya obat yang masuk maka obat-obat ini harus masuk melalui pembuluh darah besar yang ada di selangkangan, sebab jika obat dipaksakan masuk melalui pembuluh darah di lengan maka beresiko pecahnya pembuluh darah.

Banyaknya obat yang masuk membuat ginjalnya semakin terganggu, cairan urine sudah bercampur dengan darah dan protein +2.

“Allahu Akbar…!!!!. Betapa berat penderitaanmu naak”. Gumamku.

Pembengkakan kelenjar getah bening akibat TB, liver terganggu akibat OAT, efusi pleura akibat cairan tubuh yang bocor, efusi pericard di jantung, dan kiniiiiiiii ginjalnya pun terganggu…!!!!!

Mamanya hanya bisa menangis tersedu-sedu sambil menepuk-nepuk dadanya yang sakit menahan kesedihan, dia pun berkata lirih “Ya Allah, cukup Ya Allah, jangan Engkau siksa lagi putriku. Jika Engkau ingin mengambilnya maka ambilah, tapi janganlah biarkan putriku menderita begini. Dia masih belum punya dosa apa-apa Ya Allah Ya Rabb…!!!!!!”.

Akupun shalat dengan berlinang air mata dan berdoa “Ya Allah Ya Rabb. Jika Engkau berkenan memyembuhkan putriku maka segera sembuhkan dan berilah dia obat yang tidak akan meninggalkan sakit sedikitpun. Namun jika Engkau tidak berkenan menyembuhkanya, maka ambilah dia secepat mungkin dengan sebaik-baiknya dan tanpa rasa sakit sedikitpun agar dia tidak semakin tersiksa. Jangan Engkau siksa lagi putriku dengan penyakitnya”.

Keadaanya sakitnya yang semakin berat memaksa kami untuk ihlas melepas kepergianya, namun kami tetap tidak putus asa dan tetap ihktiar menyerahkan penangan pengobatanya kepada tim dokter sambil pasrah menunggu keputusan Allah.

Hari ke-3 di ruang PICU, malam itu aku merasa rindu dengan putriku. Akupun berbisik di telinganya “Aku rindu kakak, Ya Allah Ya Rabb seandainya aku bisa melihat putriku bangun tentu aku akan sangat bahagia”. Ajaibnya dini hari jam 0300 pagi, putriku mulai menggerak-gerakan tangan dan matanya mulai berkedip-kedip lemah. Saat adzan subuh berkumandang kami tinggalkan dia untuk shalat subuh dan mandi. Sekembalinya dari mandi, kami terheran-heran. Tangan dan kaki putri kami telah diikat akibat kesadaranya yang pulih total. Saat melihatku datang dia seperti berteriak minta tolong, namun dia muntah-muntah akibat selang ventilator dimulutnya. Ketika kami mendekat, putri kami duduk dengan histeris dan berusaha melepas seluruh peralatan yang terpasang pada tubuhnya. Dokter segera mengambil tindakan dengan menambah suntikan cairan obat sedasi/bius agar dia tertidur kembali. Sejak saat itu aku betul-betul takut untuk memintanya bangun kembali.

Hari ke-5 di ruang PICU, Rabu 01 September 2021. Kami silaturahmi sebentar ke panti asuhan guna meminta bantuan doa dari anak yatim piatu, sedangkan kakakku datang dengan air rukyah yang telah dibacakan ayat kursi oleh lebih 1000 santri guna mendoakan kesembuhan putri kami. Air itu pun kuusapkan kesuluruh tubuhnya dengan membaca ayat kursi, saat itu kulihat mata putriku berkedip sebentar. Kami segera memanggil dokter karena takut dia tersadar yang tentu saja membuat dia merasa kesakitan, obat pereda nyeri pun ditambahkan.

Malamnya orang tua dari teman-teman sekolah putri kami menelpon dan memberikan semangat, mereka berpesan “Jaga wudhu,,,,Jaga wudhu,,,,dan jangan sampai batal, jika batal segera wudhu lagi……Ngaji,,,ngaji,,,,dan mengaji..!!!”.

Malam itu selepas maghrib, masih di hari yang ke-5 di ruang PICU. Aku mendekat ketelinga putriku dan berbisik “Putriku, abi tahu kakak sakit. Jika kakak sudah tidak kuat menahan rasa sakit, kakak tidak usah bertahan. Kami tahu semangat kakak begitu tinggi, namun kami juga tahu kakak sakit banget. Kami ihlas jika kakak mau pergi, InSyaAllah kita akan dipertemukan lagi kelak di yaumul akhir. Pergilah anakku, kami ihlas”.

“Putriku jika engkau ingin pulang kepada Allah, jangan pulang siang hari yaa nak. Karena abi tidak mau kamu dikerubungi banyak dokter dan perawat. Jika ingin pulang, pagi-pagi saja sebelum subuh”. Jangan tanyakan perasaan kami seperti apa ketika mengucapkan kalimat itu.

Kuputar rekaman suara Murattal Al-Quran disamping putriku hingga khatam. Tepat jam 12 tengah malam dokter memanggil kami karena kondisinya semakin memburuk. Kami mengaji, membaca syahadat, dan ber-istigfar disampingnya.

Menjelang subuh jam 0354 pagi, hari kamis tanggal 02 september 2021. Putri kami menghembuskan nafas terakhirnya di ruang PICU, tepat seperti ucapanku yang memintanya untuk pulang di pagi buta.

Allahu Akbar….Inna Lillahi Wa Inna Illaihi Raji’un.

“Putriku….Jika aku tidak bisa merawatmu di dunia, maka setiap hari aku tidak akan pernah berhenti untuk berdoa meminta kepada Allah agar memberikan tempat yang mulia (syurga) bagimu”.

Seluruh jalan sudah kami tempuh dari berobat medis, minum air zam-zam, herbal, doa, sedekah, nadzar puasa, kurban, maupun silaturahmi ke para ulama kyai untuk mendoakan kesembuhanya telah dilakukan.

Namun takdir Allah tidak bisa di ubah “Umur tidak dapat dimajukan maupun diundurkan dengan segala cara”.

Putriku kumakamkan didekat kubur ayahku di kampung ibuku agar dekat dengan keluarga besar. Walaupun kami sudah tidak berdomisili di kampung kelahiranku itu, namun masyarakat berduyun-duyun mengantar pemakamanya, shalat jenazah memenuhi ruang tamu rumah ibuku.

Di sekolahnya pun menggelar doa bersama yang dihadiri seluruh wali murid dari TK hingga SD.

Gojeg-gojeg setiap hari berkirim makanan dari para orang tua yang merasa terpukul dengan kepergian putriku.

Makam putriku berdekatan dengan kubur Alm. Ayahku.

Sejak kepergianya tanggal 02 September 2021 hingga 29 Oktober 2021, kami dan paman-pamanya setiap hari berkunjung ke makam untuk mendoakanya. Perjalanan sakitnya yang luar biasa telah menjadi magnet bagi semua orang untuk datang mendoakanya.

Bahkan hingga hari ini saat kutulis kisah ini, kakaku masih rajin berziarah kemakamnya.

Jum’at 29 Oktober 2021 sebelum kembali bertugas berlayar ke Timur tengah Saudi Arabia, seperti biasa kami selalu rajin menziarahi makamnya setiap hari. Namun hari itu terasa berbeda, aku tergugu menahan tangis tetapi kutahan agar tidak menitikan air mata diatas pusaranya. Kemudian diatas pusara ayahku dengan sesenggukan kukatakan “Wahai ayah, aku makamkan cucumu berdekatkan dengan kuburmu, tolong dijaga dan ditemani cucumu ini. Duhai ayahku. Jangan biarkan dia merasa sepi sendiri di alam barzakh sana”. Aku tahu orang mati sudah tidak dapat berbuat apapun karena alam barzakh adalah dinding yang memisahkan dengan kehidupan dunia, namun ini semua hanyalah luapan emosiku semata.

Tetesan air mata dan lantunan doa mengiringi kepergian putriku.

Ya Allah Ya Rabb, Ya Rahman, Ya Rahim.

“Ampuni dan maafkanlah seluruh kesalahanya, kasihilah ia, sayangilah ia, rahmatilah ia, berilah ia kekuatan, sejahterakan ia, beratkanlah timbangan amal kebaikanya, dan tempatkanlah ia ditempat yang mulia (Surga), luaskan dan terangilah kuburnya, lindungilah ia dari siksa kubur dan siksa api neraka, mandikan ia dengan air yang jernih dan sejuk, bersihkan ia dari segala kesalahan bagaikan baju putih yang bersih dari kotoran, dan berilah dia ganti rumah yang jauh lebih baik daripada rumahnya (didunia). Masukkanlah dia ke dalam surga".

“Ya Allah Ya Rabb, Lindungilah putriku dari gelapnya dan siksa kubur”.

“Ya Allah, jadikanlah kepergian putri kami ini sebagai pahala dan simpanan bagi kami kedua orang tuanya dan jadikanlah ia sebagai pemberi syafaat yang dikabulkan doanya. Ya Allah, dengan musibah ini, beratkanlah timbangan amal kebaikan kami dan berilah kami pahala yang agung. Ya Allah, kumpulkanlah putri kami dengan orang-orang sholeh dan jadikanlah ia dipelihara oleh Nabi Ibrahim. Ya Allah, peliharalah ia dengan rahmat-MU dari siksaan jahim. Ya Allah berilah ia ganti rumah yang jauh lebih baik daripada rumahnya (didunia). Ya Allah, berilah ia keluarga yang lebih baik daripada keluarganya (didunia). Ya Allah, ampunilah pendahulu-pendahulu kami, anak-anak kami, dan orang-orang yang mendahului kami dalam keimanan.”

Ya Allah yang Maha pengasih dan Maha penyayang, kasihi dan sayangi lah putriku lebih dari rasa sayang kami terhadapnya.

Tempatkan dia di tempat yg mulia (Surga).

Aamiin ya Rabbal alaamiin.

 

Saudi Arabia, 21 November 2021.

Selasa, 01 Juni 2021

Aramco SDPO/DPO Evaluation

ARAMCO SDPO/DPO Evaluation.


Alhamdulillah, kali saya ingin berbagi dengan seluruh pelaut-pelaut Indonesia mengenai "Questions and Answers" yang besar kemungkinan akan ditanyakan oleh Aramco Quality assurance guna mendapatkan Aramco approval letter.

Semoga article tulisan ini bisa bermanfaat,  menambah pengetahuan kita, dan tentunya harapan saya akan semakin banyak DPO tanah air yang bisa bergabung di kapal-kapal Saudi Aramco.

Untuk Aramco Offshore Manual banyak yang saya remove dari tulisan ini dikarenakan menyebarkan dokumen tersebut adalah merupakan tindakan illegal, jadi silahkan dibaca-baca sendiri ketika dalam masa familirisasi.

Jangan kikir dalam berfikir.

Salam dari laut,
Zie Ahmadi.

The evaluation of Deck Officers for competency or knowledgeable in the following areas (Ini adalah materi-materi pokok yang akan ditanyakan):
  1. Rules of the Road (COLREG 1972). 
  2. Oil/Gas Field Procedures: Procedures of entry to and operation inside any oil/gas field including the 500m Safety Zone and H2S Gas procedures when alongside platforms, Emergency Response Procedures in case of emergencies/disasters including the requirement for incident reporting.
  3. Marine Department Procedures: All procedures appertaining to his Vessels operations. Knowledge of Emergency Response Plans appertaining to his Vessels operations and knowledge of the requirements for incident reporting.
  4. Boat Handling: Practice and Theory. 
  5. Use of Radar
  6. Tide Tables: The ability to calculate Under Keel Clearance (UKC) and in particular the minimum UKC for crossing subsea installations and transiting / working in shallow water areas.
  7. Compass Work: Variation and Deviation, methods of error checking and adjustments
  8. Current Set and drift calculations
  9. Knowledge of own Vessel: Navigation equipment, firefighting, towing and anchor handing equipment, bulk and liquid transfer systems, anchoring and mooring equipment, safety standby and rescue operations equipment, cargo loading and offloading equipment, Protective Planned Maintenance, power management and companies safety management system.
  10. Navigational Chart Work: Chart symbols, especially chart symbols used on Saudi Aramco Field Charts (oilfield symbols); create a safe Passage Plan from one location to another location within a field; and correctly apply chart corrections.
In addition evaluation of DPO
For the DP OSV Vessel, all DP Officers will undergo a full Evaluation asf:
  1. Complete all the requirements for all non DP Officer above.
  2. Demonstration of full knowledge of all DP bridge equipment.
  3. Demonstrate competency in handling the Vessel with ‘Manual’ Controls (No Joystick). This will include, but not limited to, steering while under way, berthing and un-berthing the Vessel
  4. Demonstrate competency in handling the Vessel using all DP Modes fitted to the Vessel
  5. Demonstration of competency in de-activating DP Console
  6. Present up-to-date DP Certificate
  7. Present an up-to-date DP Logbook
Practical maneuvers evaluation (SDPO should able to maneuvers the vessel manually) - Practical maneuver only for SDPO
Actions to be taken prior practical maneuver are as follows:
  1. Conduct tool box meeting with all crew member.
  2. Check the vessel draft prior maneuvering
  3. Check forward and aft distance with other vessel
  4. Check the tide table to determine current speed and direction
  5. Check anemometer to determine wind speed and direction.
  6. Prepare departure check list and Go No-Go check list, Follow the procedure as per check list.
  7. Report to Tanajib port control on VHF Ch.69 “We have ARAMCO QA on board and request permission to start M/E for practical manoeuvre evaluation purpose”
  8. When the M/E, B/T, Steering gear and windlass are ready. Report to Tanajib port control  on VHF Ch.69: “M/E ready and request permission to pull out for practical manoeuvre evaluation purpose”.
  9. Once all ropes on board, again report to Tanajib port control on VHF Ch.69 “All ropes are on board and request permission to pull out for practical manoeuvre evaluation purpose”.
  10. You can start pull out from the berth and follow instruction given by ARAMCO QA. Maintain good communication with all crew and perform good practice on bridge team management.
DP "SET UP". Once the vessel clear from the berth, ARAMCO QA will ask you to perform change over control from "Manual to DP Mode" and start "Setting-up DP".
  • Adjust the heading with appropriate wind/current direction.
  • If the thrusters and steering control still on the forward, change all thrusters control to the aft/stern control.
  • Turn selector switch to DP Mode, enable all thrusters, rudder, PRS (normally only DGPS during evaluation). 
  • Take on Joystick control, check for thrusters setup and feedback, reduce the vessel movements as close to zero as possible, step by step press "Auto yaw - Auto sway - Auto Surge" and now you are in "Auto DP mode".
  • Perform DP checklist (Gyro, VRS, Wind sensors, PRS, speed, ROT, COR, Alarm, UPS, together with power plant and thrusters system).
Can you start operation once you completed Setting-up the DP Mode?
No, I can't start the operation and the vessel should be in full DP for a minimum "30 minutes" to ensure that the DP System has time to settle the vessel into the location and build Mathematical model to its optimum stage.

How many distance to the structure/installation for safe operation?
As far as practicable from the installation, but if nature of operation required to come closer, the closest approach shall not be less than 10 Meters. Where in any instance these criteria cannot be met full determination shall be taken in the Risk assessment process and incorporate into safe working limits developed for the particular location.

What are DP sensors and Reference system on your vessel?
You will find the exact answer if this question on "DP Operation manual".
The example of DP Sensors (Environmental sensors) and Position References for DP2 are as follows:
  1. DP Sensors (Environmental sensors); 3 Gyro compasses to control & monitor the heading, 3 Wind sensors to monitor wind speed/direction, 3 MRU to monitor pitch, roll and heave.
  2. Position Reference Systems: Two DGPS dual frequency, One RADius with dual interrogator, One Spot Track with reflector, Cyscan.
Check your vessel particular to answer this question.

What is the meaning of DP Capability Plot?
DP Capability defines as DP vessel's station-keeping keeping ability under given environmental and operational conditions. DP Capability analysis system predicts the maximum weather conditions in which the vessel is able to continue DP Operations.
DP Capability Plot. The diagram's circle showing wind speed and direction. 
Present System running showing maximum weather conditions the vessel able to maintain position in normal condition.
Worst single failure showing maximum weather conditions the vessel able to maintain position in case of any single failure.

DP Consequence Analysis.
This is a software function that continuously performs an analysis of the vessel's ability to maintain position and heading after a predefined, worst case failure during operation.
The analysis function run every minute and provide the Operator with a pre-warning alarm of any situation where a failure would result in loss of ability to maintain position in the existing environmental condition.
Typical response would be a warning message "Consequence Analysis Warning On" with description "Single worst case failure will cause drift-off".
If situation is no longer critical, the message is replaced by "Consequence Analysis Warning Off".
This function is only available for DP2/DP3 class vessel.
See the below picture to activate the function.

Familiarize with FMEA and DWCF scenario (Design Worst Case Failure) on your vessel.
FMEA (Failure Mode and Effect Analysis) = Means a systematic analysis that identifies all potentional failure modes and their consequences into DP System.
This is to ensure if any failure system does occur, the vessel will remain on station&heading within specific weather and external forces criteria as detailed in the vessel capability plot.
FMEA will analyze all potential failure modes and define the vessel's design Worst Case Failure (DWCF), this DWCF will be tested in the practical FMEA proving trials. Normally allow 30 minutes for continue DP operation after a failure. But depend on operation and situation.
Familiarize yourself with DWCF on your vessel, how to prevent and action to be taken in case this failure happen.
WCF (Worst Case Failure) = The identified single failure mode in the DP system resulting in maximum effect on DP capability as determined through FMEA study.

Familiarize with your vessel DP system such as
  • Type, class of redundancy.
  • Environmental sensors & Heading Reference (Gyro, MRU, Wind sensors).
  • Position Reference system (DGPS, CyScan, RADARSCAN, etc).
  • UPS and RCU (Remote Control Unit) and location of all components.
  • How to reset and or change over the controller.
DP check list - Familiarize how to complete DP Checklist, DP Checklists are as follows:
  • DP Field Arrival/Re-entry Trials.
  • 500MZ Pre-entry Checklist.
  • 6-Hour watchkeeping periodic checklist.
  • 6-Hour Engine Room checklist.
  • Engine Room DP Checklist.
  • Off DP Checklist.
  • DPO Familiarization checklist.
  • Engineer Familiarization checklist.
  • DP Footprints plotting.
Six Degrees of Freedom
  • Surge = Fore and aft vessel's movements.
  • Sway = Port and starboard vessel's movements (athwart ships direction)
  • Yaw = Change of vessel's heading (Rotation about a vertical axis)
  • Pitch = Rotation about the artwart ship axis.
  • Roll = Rotation about fore and aft axis.
  • Heave = Up and down vessel's movements.
Remarks: 
  • Surge, Sway, and Yaw are measured, monitored and controlled by DP System. To activate or control Surge and Sway requires position reference system, but to control Yaw/heading requires only heading reference system (Gyro compass).
  • Pitch and Roll can't be controlled, but they must be measured & monitored with precision for accurate of position reference. Heave is not part of DP System control, but maybe required during crane & divers operation.
Location, numbers and breaker switch of the below equipment:
  • Heading reference (Gyro compass)
  • Vertical Reference System (VRS/VRU) - MRU
  • Wind sensors.
  • Position Reference System (Location, how many, type, name and principles of operation) 
  • Failure modes of reference system (refer to FMEA & ASOG)
  • DP Operation manual.
  • FMEA Proving trial document.
  • Document of ASOG, CAMO, and DP Capability plot.
Elements of DP Systems.
DP System means the complete installation necessary for dynamically positioning a vessel comprising the following subsystems: Power System, Thrusters System and DP control system.
Elements of DP Systems are as follows:
  1. Power generation and control system (Including UPS & Batteries).
  2. Thrusters & propulsion system.
  3. Position reference system.
  4. Heading reference. 
  5. Environmental reference.
  6. DP Computer.
  7. DP Console.
  8. DP Operator.
TAM, CAMO, and ASOG.
  • The Critical Activity Mode of Operation (CAMO) presented in tabular form to shows how to configure the vessel’s DP system, including power generation & distribution, propulsion and position reference system for the vessel to meets its maximum level of redundancy, functionally, and operation. As such, no single point failure will exceed the DWCF.
  • Task Appropriate Mode (TAM) is the configuration that the vessel’s DP system may be set up and operated in, accepting that a single failure could result in exceeding the worst case failure and could result in blackout or loss of position.
  • Activity-Specific Operating Guidelines (ASOG) means guidelines on the operational, environmental, and equipment performance limits for the location and specific activity.  (For drilling operations, the ASOG may be known as the Well-Specific Operating Guidelines (WSOG). Activity Specific Operating Guidelines (ASOG) are presented in tabulated format and set out the operational, environmental and equipment performance limits necessary for safe DP operations while carrying out a specific activity.
The ASOG and CAMO has an important role for the Engineers and DPO, as they make very clear the correct configuration and limits of the machinery systems for DP operations and also provide the proper response to faults and failures.

Please review your CAMO, TAM, and ASOG as per DP Operation Manual.

What will you do if you work on yellow status?
The yellow status indicates degraded status and there is a high risk of the vessel losing position if any another failure does occur. The vessel is still maintaining position but some DP critical equipment will have lost it's redundancy.
  • When in yellow DP status, any vessel operations to be stopped and initiate for contingency procedures such as prepare to disconnect hose or crane.
  • Notify or inform the Master, C/E, Aramco Rig Foreman, Crane operator or platform control.
  • Safely pull out from the Rig/Installation to safe position outside 500 MZ.
  • The vessel will not permitted to return to work until DP redundancy has regained, failures have rectified & back to green DP status, and approved by all parties involved.
The outcome of risk assessment for yellow status as follows:
- Stop supply operation; or
- Continue in manual control as agreed; or
- Relocation to the lee side.

In case of emergency or Red DP status what will you do and how do you exit from worksite?
Red DP status indicates a severely degraded status or emergency situation.
In case of emergency the safety of life if the first priority and the safety of property and protection of the environment have a lower priority.
  • In this case all operations to be ceased, take immediate action "emergency disconnect sequence" and leave 500mz immediately.
  • All parties are to be informed.
  • The vessel may exit from worksite to safe location by manual or joystick and follow emergency escape plan by moving ahead or astern rather than moving sideways (which is the fastest way to escape).
  • Emergency escape to be extended until outside 500MZ.
  • No DP operation to be recommenced until a full investigation has been implemented, failure resolved and fully tested.
What will you do if loss of 1 (one) thruster while you are on DP position during supply operation with the Rig, According to ASOG guidance?
According to ASOG, in case loss of any thruster the vessel will be in “Yellow status” or degraded status and there is a high risk of losing position if any another failure occur. The vessel has lost its redundancy even still able to maintain position.
  • The vessel operations to be stopped/ceased and initiate for contingency procedures such as prepare to disconnect hose or crane.
  • Notify or inform the Master, C/E, Aramco Rig Foreman, Crane operator or platform control.
  • Safely pull out from the Rig/Installation to safe position outside 500 MZ.
  • The vessel will not permitted to return to work until DP redundancy has regained, failures have rectified & back to green DP status and approved by all parties involved.
  • Or short answer asf: “CEASE/STOP OPERATIONS, BRING VESSEL TO SAFE POSITION, EXIT 500MZ. (DEFAULT EXIT WORKSITE TO 200m ON DP; 200m TO 500m MAY EXIT ON JOYSTICK OR MANUAL)
  • The Master may depart in manual or joystick in case of emergency or loss position.
Your vessel is DP2/DP3 Class. During supply operation, single failure has occurred on the DP System and caused the vessel will has degraded status, but the vessel still able to maintain position and loss of redundancy only. Can you continue operation in such case?
No, I can’t continue the operation.
I have to stop/cease the operation and initiate for contingency procedure such as prepare disconnect hose or crane. Safely pull out from the installation to the safe place OUTSIDE 500mz until failure has rectified and DP redundancy regained.
The purpose of redundancy is not for continue the operation, but it is for safely terminate the operation.
Redundancy means the ability of components or systems to maintain or restore its function when a single failure has occurred. Redundancy can be achieved for instance by the installation of multiple components, systems or alternative means of performing a function.

What is the meaning of “Drift-off and Drive-off”?
  • The loss of position event can be a Drift-Off or a Drive-Off.
  • DP Drift-off is a scenario of the vessel drifting away from the target position by the environmental condition due to insufficient of thrusters force. 
  • The Drift-off can be caused by: Power system failure, thrusters system failure, DP control system failure (DP Control, Reference system, and or environmental sensors), and DPO human error.
  • DP Drive-off is scenario of the vessel being pushed away (driven away) from the target position by excessive thrusters force.
  • Drive-off can be caused by: thrusters failure (frozen pitch/RPM and/or Azimuth), reference system failure, common failure on two or more reference systems, DP control system failure, DPO error, and suddenly change in weather/wind/current.
The DP Drive-off is considered the most dangerous situation.

What is the meaning of DP Current?
DP Current is the current value that the DP system shows on the DP screen. It is equal to “DP Current = Thrusters force – Wind load”. Thus, DP current is the total of external forces minus the wind load.
It includes: Current load, wave load, external forces, all non-model phenomena (hydrodynamic effects, etc).

What is the dead reckoning?
If all position reference system are lost, the vessel still maintaining position with estimator mathematical model.

What are the DP Incident.
The following are categories of DP Incidents which shall be reported in conjunction with DP
Operational Manual and IMCA Guidelines (IMCA 182, IMCA M103)
  • DP Incident; Loss of automatic DP control, loss of position or any other incident which has resulted in or should have resulted in a ‘Red Alert’ status
  • DP Near-Miss: Occurrence which has had a detrimental effect on DP performance, reliability or redundancy but has not escalated into ‘DP incident’, ‘Undesired Event’ or ‘Downtime’
  • DP Downtime; Position keeping problem or loss of redundancy which would not warrant either a ‘Red’ or ‘Yellow’ alert, but where loss of confidence in the DP has resulted in a stand-down from operational status for investigation, rectification, trials, etc.
  • DP Undesired Event:  Loss of position keeping stability or other event which is unexpected / uncontrolled and has resulted in or should have resulted in a ‘Yellow Alert’ status.
In addition to reporting the above incidents, details of the event are to be recorded separately in the DP Log Book (DP Events Log Sheet) and on a DP Fault Record Sheet.
Accurate and detailed reporting could be of vital importance in the event of a DP incident and also provide a record of the system operation.

General knowledge questions.

What are key differences between X – band and S – band RADAR?
a. X – Band RADAR
  • Wave length 3 cm and frequency 9 GHz
  • Because of the smaller wavelengths (3 cm) produced by X-Band radar, they use ”Small antennas”
  • Shorter wavelengths are greater attenuation, so they are used for “Short range distance observation”
  • X-Band radars are more sensitive, higher resolution and able to detect smaller particles/objects.
  • X-Band radars are not good for “Heavy weather and long distance observation”.
  • X-Band radar can detect RADAR Transponder and SART (9 GHz)
b. S – Band RADAR
  • Wavelengths 10 cm and frequency 3 GHz (Opposite with X-band radar)
  • Because of bigger wavelengths (10 cm) produced by S-Band radar, they use “Big antennas”
  • Bigger wavelengths are less attenuation, so they are used for “Long/Near/Far range distance observation”
  • The S-band radars penetration capability allow them to see trough heavy weather “Good for heavy weather observation”
  • To be fitted as second RADAR, which is required on Ships GT 3000 or more as per SOLAS Regulation
Which RADAR mode (true motion or relative motion) is better for collision avoidance and please explain your reasons?
  • When determining close quarter situation or risk of collision exist (Avoidance), it’s better to use relative motion rather than true motion. Because on the true motion, own ship and other targets moves at their true speed and course, hence it can distinguish or make confusing between moving and stationary target.
  • The relative motion helps to find targets on a collision course. The vessel’s position appears to be stationary at the centre of the radar screen, while the targets move past it. ” The logic is obvious. If a contact appears to be moving straight toward the centre of the screen, the there is a risk of collision.
  • A relative motion display shows the direction and distance at which a target will pass closest to the centre of the screen (Own ship); it’s called the CPA, or Closest Point of Approach.
  • If the target appears will cross the heading marker, the target will pass ahead of us and we will pass astern of it. But if the target is going to pass behind own ship, that means we will pass in front of it.
  • Set the vector and trail on “True motion”. Vector length about 30 minutes, trail length about 10 minutes, then your vessel orientation movements and past positions of each moving target are displayed on the radar screen. This makes easy to determine which targets are moving and or fixed/stationary.
Could you please explain about RADAR “Head up and North up Mode”?
  • North-up mode: The North-up mode shows the targets in their true (Compass) direction from own ships. The North being maintained up on the centre of radar screen same as on the chart. The North-up mode is better to be used while navigating at open sea. Because it show me the real location of each target and land same as the chart my course drawn on it and I will not get confuse when taking bearing of each target, furthermore it is useful to determine our own heading or target without checking the compass or chart.
  • Head-up mode: The Head-up mode shows the heading line being maintained up on the centre of radar screen same as our real forward view. This is useful for navigating while approaching the Port, because all targets and lands in front of the vessel are at the top of the screen. Things on the starboard side are on the right, and so forth. 
Are you familiar with “Parallel index technique”?
We have to practice and familiar with “Parallel index”, how to adjust line orientation and distance between the lines.
  • Parallel index is a technique a measure to monitor the progress of the vessel on track and to minimize the cross track distance (keep the vessel on track) as limited availability of sea room at coastal water and keep the vessel at safe distance from the shore line or other navigational hazard
  • To adjust Parallel index, Orientation of the line can be set using EBL Marker and distance between the lines adjusted by the VRM Marker.
  • Parallel index effectively used during coastal passage (Coastal congested water, TSS, narrow channel, canals and rivers). Both vessel track monitoring and traffic monitoring can be done from the same radar monitor.
  • Parallel index ensure the ship’s position remain at fixed distance from any shore line, to alert mariner that he has come close to a navigational hazard and it’s valuable tool to judge the drift in confined water.
See the below picture of PI.

Could you please let me know, how to take bearing and distance using RADAR?
We have to practice and familiar with it, practice yourself to take bearing and distance from the target using “EBL Marker” and “VRM Marker”

RADAR plotting (OA, WA, WO, CPA and TCPA) and what is your action in case of close quarter situation is developed.
  • Use EBL marker to identify priority targets. “The target that cling to the EBL line (Relative angle remain constant) indicate high risk of collision”
  • WO = Way of own ship line representing of our own course and speed.
  • WA = Way of another ship line representing target’s course and speed
  • OA = Apparent of another ship, direction of target’s relative motion
  • CPA = The predicted “Closest point of approach”.
  • TCPA = The predicted “Time of the closest point of approach”.
Action to be taken in case of close quarter situation or collision exits;
  • Altering course and increase CPA at passing minimum safe distance.
  • Avoid altering course to port for a vessel forward of the beam, other than for a vessel being overtaken and Avoid altering course towards a vessel abeam or abaft the beam
What action to be taken in case radar suddenly shutdown and close quarter situation occurred?
  1. The first action I will stop engine or reduce speed for save manoeuvring speed. (If in doubt, stop and keep the vessel in position)
  2. Inform the Master.
  3. Take bearing and distance from the target using manual bearing. “The risk of collision shall be deemed to exist if the compass bearing of an approaching vessel does not appreciably change.”
  4. Take action to avoid collision with altering course until safe distance (CPA) from the target.
  5. Avoid altering course to port for a vessel forward of the beam, other than for a vessel being overtaken.
  6. Avoid altering course towards a vessel abeam or abaft the beam.
  7. Do not hesitate to stop engine or reduce speed to thinking about best action to be taken on such situation.
What action to be taken if you detected fishing boat on close quarter situation at your port side?
As per COLREG Rule no.18: Responsibilities between vessels, I will take action in ample time to avoid any collision by altering course to starboard keep away from the fishing boat and passed at safe distance.

What is minimum CPA for the passing save navigation?
  • Please refer to Master standing order or night order for the answer of this question and make sure it is written on that book as well.
  • Normally minimum CPA at open water is 1.0 NM and confined water 0.50 NM.
  • Call the master if you are not able to keep safe distance as mentioned on Master standing order and night order.
What is your action in foggy time with visibility less than 0.5 NM?
  • Reduce speed for safe manoeuvring speed (Rule: 6/19).
  • Inform the Master.
  • Post and keep proper look out by sight and hearing (Rule 5).
  • Inform duty engineer for standby and keep M/E ready for immediate manoeuvre.
  • Start give sound signal (Rule 35) and switch on navigation light (Rule 20)
  • Properly use of Radar/ARPA equipment to obtain early warning risk of collision (Switch on both Radar, one in a long range 6 – 12 NM and one in a short range 1 – 3 NM)
  • Frequently check position of the vessel and plotting course, any dangerous object for navigation to be clearly marked and avoided
  • Switch on echo-sounder to keep seabed line under control.
  • Use manual steering
What action to be taken when vessel negotiating area of shallow water?
  • Shallow water as per MIM No.1198.001/1198.002 (Water depth less than 10 M LAT).
  • Switch on echo-sounder to keep seabed line under control.
  • Reduce speed for “Safe Speed” to avoid any squat effect.
  • Check vessel UKC using tide table and comply with minimum UKC requirement as per MIM.
  • Inform duty engineer for standby and keep M/E for emergency manoeuvre..
  • Frequently check position on the chart and plotting course.
  • Maintain good look out, use manual steering and check tide/weather condition.
  • Density of navigation traffic, dangerous area for navigation and reporting procedure of VTS-communication
What is precaution to be taken while preparing passage plan?
  • The vessel draft. To comply with minimum UKC requirements as per Offshore manual.
  • The effect of tides and currents
  • The availability of electronic aid to navigation and their accuracy or limitation
  • To comply with Saudi ARAMCO maximum speed requirements
  • To comply with Saudi ARAMCO minimum time interval for position fixing and recording (Open water take position every 30 minutes, inside field every 15 minutes).
  • Keep safe distance (outside 500M Zone from any offshore installation).
  • The day or night time passing of hazardous area.
  • Requirement by ARAMCO VTS and Port control (Send passage plan by email for approval, do not enter the field or move until the passage plan has approved by VTS).
  • Weather condition
What is your action in case of any fire inside of the accommodation board?
  • Sound the alarm (Continuous ringing).
  • Stop and close all ventilation/hatches/damper.
  • Isolate the power.
  • Proceed to extinguish the fire as per Muster list and follow instruction given by Saudi ARAMCO “Emergency response plan”
What is your action in case of any Man overboard board?
  • Throw the Lifebuoy to the person overboard and in the night time one of the Lifebuoy should be fitted with light.
  • Sound the alarm (3 long blast) or shout “Man overboard”.
  • Post look out.
  • Press GPS MOB to Position fixed/marked, Stop the engine, Medical team ready and FRC ready for action.
  • Proceed to rescue the victim as per guidelines on “How to recovery persons overboard booklet” and Saudi ARAMCO “Emergency response plan”.
What is procedure prior discharging cargo bulk “cement” and In case of the Rig are not receiving cement, can you open the hose connection to ensure there is no any blockage on the line?
a.Procedure prior discharging cargo bulk cement;
  • Conduct Toolbox meeting and Risk assessment with all crew member.
  • Follow procedure as per cargo bulk transfer check list.
  • Once hose properly connected and secured. Ensure all valve on the Vessel and Rig are fully opened.
  • Blowing the lines to make sure all lines are free.
  • Pressurized the tank and once the Rig confirm ready to received, we can start discharging cement bulk.
  • Maintain proper communication between the vessel’s crew and Rig via VHF Radio
b.In case of the Rig are not receiving cement, we could not open the hose connection directly
  • Release pressure inside cement tank via cement ventilation.
  • Properly secured the hose connection using “Whip check cable”. In many case the air pressure has trapped inside the hose.
  • Open the hose slowly, keep safe distance and direction from hose connection to avoid house bounced to the crew body.
Please tell me about “Toolbox meeting and Risk assessment”
  • A Toolbox meeting is an informal safety meeting that focuses on safety topics related to the specific job. Such as; workplace hazards, safe working practice and procedures. Toolbox normally short duration and generally conducted at the job site prior commencement of a job or work shift.
  • Toolbox meeting is the most important, because it’s covered Risk assessment and job procedure.
  • Risk assessment is the combined effort to identify and analyze “What might cause harm to people and decide reasonable steps to prevent that harm”. It is contain: Nature of activity, hazard to the crew/asset/environment and how to mitigate the hazard.
Practical wear of SCBA (Self contained breathing apparatus)
We should able to practice to wear SCBA in a flash (Within one minutes).!!!”Very important..!!!”
  1. Press “Demand valve” on the mask to avoid air release when opening the valve. Some SCBA have “Demand valve” that would activate automatically once you start breathing. You have to familiar with your own SCBA prior evaluation.
  2. Open the cylinder valve to release air pressure and whistle alarm will be sounded automatically.
  3. Check the pressure in the bottle; make sure it’s not empty.
  4. Wear the face mask and pull the straps to tighten, breathe normally.
  5. Hold the back plate with both hands and lifts the SCBA over your head, Pull the straps to tighten.
Vessl Speed and UKC Limit requirement:
  • The maximum speed limit inside Tanajib inner channel is ten (10) knots, maximum speed limit inside the harbor is seven (7) knots. The seabus are permitted to increase to a maximum twenty (20) knots in inner channel when its operating in “one way” mode.
  • Maximum speed entering 500MZ  of Rig/installation is 3.0 knots
  • Maximum speed  within 100MZ of Rig/Installation is 05 knots
  • Minimum UKC cross over pipelines/subsea installation is to be 5.0 meters or more.
  • Minimum UKC at normal sea bed is to be 1.0 meter or more.
  • Minimum UKC whilst alongside piers/jetty facility is permitted to be decreased up to 0.3 meters or more.
IALA Bouyage System.

Entry of enclosed space gas concentration requirement:

Practical use of AED.


Demikianlah.
Semoga membawa manfaat dan menambah pengetahuan kepada saya pribadi maupun yang membaca tulisan ini.

Segala kritik dan koreksi atas kesalahan dalam penulisan, sangat saya hargai.
Silahkan tinggalkan di kolom komentar.


Salam,
Jakarta, 01 June 2021.
Zie Ahmadi.